Selasa, 22 Maret 2011

STRUKTUR KEPRIBADIAN MENURUT SIGMUND FREUD DAN IMAM GHAZALI (3)


STRUKTUR KEPRIBADIAN MENURUT SIGMUND FREUD DAN IMAM GHAZALI (3)
Oleh al-faqir billah Muhamad Safii Gozali

BAB III
ANALISIS PENELITIAN

A.    Pendahuluan
1.     Sigmund Freud
Waktu psikologi mulai timbul sebagai ilmu pengetahuan pada pertengahan abad XIX di Jerman, maka yang dijadikan obyek adalah kesadaran orang normal, dewasa, dan beradab. Hal ini timbul terutama karena pengaruh Descartes yang dengan berpangkal kepada semboyan: Cogito ergo sum menetapkan bahwa objek psikologi adalah kesadaran. Tugas psikologi adalah menganalisis kesadaran itu, kesadaran digambarkan dari unsur-unsur struktural yang sangat erat hubungannya dengan proses-proses dalam pancaindera. Psikologi berusaha mencari unsur dasar daripada kesadaran itu dan menentukan bagaimana unsur-unsur itu bergabung. Ini tercermin dalam Psikologi asosiasi, sampai pada Psikologi Wundt.
Pendapat di atas banyak mendapatkan pertentangan. Salah satu nya berasal dari Freud. Freud menganggap bahwa kesadaran hanya merupakan sebagian kecil saja daripada seluruh kehidupan psikis; Freud memisalkan psyche itu sebagai gunung es di tengah lautan, yang ada di atas permukaan air laut itu menggambarkan kesadaran, sedangkan di bawah permukaan air laut, yang merupakan bagian terbesar, menggambarkan ketidaksadaran. Di dalam ketidaksadaran itulah terdapat kekuatan-kekuatan dasar yang mendorong pribadi. Karena itu untuk benar-benar memahami kepribadian manusia psikologi kesadaran, yang oleh Freud disebut psikologi permukaan, tidak mencukupi; orang harus menjelajah lebih dalam ke daerah ketidaksadaran dengan mengembangkan psikologi dalam. Selama lebih dari 40 tahun Freud menjelajah ketidaksadaran itu dengan metode asosiasi bebas dan berhasil mengembangkan teori kepribadian yang kemudian besar sekali pengaruhnya dalam lapangan psikologi (Suryabrata, 2007).
Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis itu dilahirkan di Moravia pada tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939. Selama hampir 80 tahun Ferud tinggal di Wina dan baru meninggalkan kota ketika Nazi menaklukan Austria. Sebagai anak muda Freud bercita-cita ingin menjadi ahli ilmu pengetahuan dan dengan keinginan itu pada tahun 1873 masuk fakultas kedokteran Universitas Wina, dan tamat pada tahun 1881. Sebenarnya Freud tidak bermaksud melakukan praktek sebagai dokter, tetapi karena keadaan memaksa (kurangnya fasilitas bagi orang-orang Yahudi, makin besarnya tanggungan keluarga) maka dia lalu melakukan  praktek. Di dalam praktek ini ternyata dia mendapat kepuasan karena mendapat kesempatan untuk melakukan research dan menulis, sehingga jiwa penyelidikannya tidak tertekan (Suryabrata, 2007).
Perhatian khusus Freud terhadap neurology mendorongnya mengadakan spesialisi dalam perawatan orang-orang yang menderita gangguan saraf. Untuk mempertinggi kecakapannya Freud belajar selama satu tahun kepada seorang ahli penyakit jiwa Perancis yang terkenal, yaitu: Jean Charcot. Dalam merawat pasien-pasiennya Charcot mempergunakan metode hypnosis. Freud mencoba pula metode hypnosis, tetapi dia tidak puas akan hasilnya, karena itu ketika dia mendenganr bahwa Joseph Breuer, seorang dokter di Wina, mempergunakan metode lain, yaitu metode dengan mengajak pasien berbicara, dan berhasil, maka Freud lalu mencobanya dan ternyata berhasil, hasilnya lebih memuaskan. Breuer dan Freud bersama-sama menulis tentang hysteria yang disembuhkan dengan percakapan itu ( Studien Ueber Hysterie, 1895).
Akan tetapi kedua ahli itu segera bertentangan pendapat mengenai pentingnya faktor seksual dalam hysteria. Freud berpendapat bahwa konflik-konflik seksual merupakan sebab daripada hysteria, sedangkan Breuer dalam hal ini berpandangan lain. Sejak perpisahan dengan Breuer itu Freud, menempuh jalannya sendiri dan mengemukakan gagasan-gagasannya yang akhirnya merupakan dasar daripada teori psikoanalisis dan memuncak dengan terbitnya karya utamanya yang pertama: “Traumdeutung (Takbir mimpi, The Interpreation of Dream, 1900).
Buku-buku serta tulisan-tulisannya yang lain segera membuat pandangannya menjadi pusat perhatian para ahli di seluruh dunia, dan tak lama kemudian Freud diikuti oleh banyak ahli dari berbagai negara, antara lain Ernest Jones dari Inggris, Carl Gustav Jung dari Zurich, A.A. Brill dari New York, Sandor Jerenzi dari Budapest, Karl Abraham dari Berlin, dan Alfred Alder dari Wina. Dua orang diantara murid-muridnya itu kemudian memisahkan diri karena pandangan yang berbeda; mereka itulah: Alfred Alder (mendirikan Individual Psychologie pada tahun 1910) dan Carl Gustav Jung (mendirikan Analytische Psychologie pada tahun 1913).
Sebenarnya menurut Suryabrata (2007), adalah tidak mungkin dengan singkat mengemukakan secara memadai siapa Freud itu dan apa pendapat-pendapatnya:
Masa mudanya sebagai mahasiswa kedokteran serta sebagai penyelidik; pengaruh yang besar dari Ernest Brucke, salah seorang ahli fisiologi Jerman yang kenamaan, yang menganggap manusia sebagai system dinamis yang tunduk kepada hukum-hukum alam; perkawinannya dengan Martha Bernays dan kehidupan keluarganya yang lama dengan enam orang anak – salah seorang di antaranya adalah Anna, yang mengikuti jejak ayahnya; belajarnya kepada Charcot yang sangat merangsang aktivitasnya, hubungannya dengan Wilhelm Files; usahanya dalam analisis diri sendiri yang dimulai pada tahun 1890 dan terus dilakukannya sampai akhir hidupnya: undangan yang diterimanya dari G. Stanley Hall, presiden (rector) Universitas Clark, supaya memberikan ceramah pada peringatan berdirinya universitas tersebut, pendirian “International Psychoanalytic Association” dan berpisahnya murid-muridnya yang penting seperti Alder, Jung, Rank dan Stekel pengaruh Perang Dunia I terhadap dasar-dasar teorinya: caranya dia menyelamatkan diri dari cengkeraman Nazi, dan sebagainya; akan merupakan cerita yang panjang. Untuk memahami semua itu orang dapat membaca biografi Freud yang di tulis oleh Ernest Jones, terdiri dari tiga jilid besar (1953-1955).
Mengenai pendapat-pendapatnya, demikian banyak dan luasnya, sehingga sukar untuk memberikan ikhtisar. Di dalam tulisan ini pembicaraan hanya akan dibatasi mengenai teori Freud tentang kepribadian, dan dikecualikan pendapat-pendapat Freud yang lain, mesalnya teori mengenai neurosis, tekhnik psikoanalisis, penggunaanteori Freud dalam ilmu-ilmu social, kesenian, kesusateraan dan lain-lain soal kemanusiaan. Juga disini tidak akan dikemukakan perkembangan pendapat Freud yang terakhir (Suryabrata, 2007).

2.  Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali mempunyai nama kecil Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad ath-Thussi dan mempunyai gelar “Hujatul Islam” (pembela agama) dan “Zainuddin” (penghias agama). Beliau lahir pada tahun 450 Hijriyah/ 1058 Masehi di kampung Ghazalah Kabupaten Thuss Propinsi Khurasan, Persia (Iran) (Qardhawi, 1996).
 Adapun sebutan Al-Ghazali terdapat dua kemungkinan yaitu pertama dengan tulisan “Al-Ghazali” dengan satu “z” berarti nama kampung halamannya, Ghazalah. Kedua, dengan tulisan “Al-Ghazzali” dua ‘z” dapat berarti profesi orang tua dan dirinya sebagai penenun penduduk Khurasan, Persia (sekarang Iran) (Masduki, 2005). Akan tetapi sampai sekarang, para peneliti, ilmuwan dan lainnya lebih banyak menggunakan nama  dengan satu “z”, Al-Ghazali saja.
Pada mulanya Al-Ghazali belajar di Thuss pada usia 20 tahun dengan mempelajari ilmu fiqih kepada Razakani Ahmad bin Muhammad, tasawuf kepada Yusuf an-Nassaj, ke Jurjan pada tahun 479 Hijriyah belajar kepada Nashar al-Ismaili. Karena kurang puas dengan pelajaran yang ia terima di Jurjan, maka ia pulang ke Thuss selama 3 tahun. Pada tahun 471 Hijriyah ia berangkat ke Nishapur, tertarik dengan sekolah Nizhamiyahnya. Disinilah ia bertemu dengan dekan, Abu al-Ma’ali Dhiyauddin Al-Juwaini (Imam Haramain – imam dua kota, yaitu: Madinah dan Mekkah).
Karena kecerdasan berpikirnya, pada tahun 475 Hijriyah (usia 25 tahun) Al-Ghazali diangkat menjadi dosen Universitas Nizhamiyah oleh Imam Haramain. Pada tahun 479 Hijriyah, Imam Haramain wafat, sehingga untuk mengisi kekosongan posisi guru besar universitas tersebut, PM Nizham al-Mulk mengangkat Al-Ghazali untuk menjadi guru besar (usia 28 tahun).
Ketika di puncak kecemerlangan di masanya pada usia 38 tahun dia mulai melakukan perjalanannya. Terjadi konflik batin yang begitu besar yang mengakibatkan dirinya mencari ketenangan dengan menghabiskan waktunya untuk berkhalwat dan melakukan latihan-latihan mistik. Kemudian dia menjadi murid seorang Sufi kenamaan, Adhal bin Muhammad. Selama perjalanannya yang panjang keberbagai tempat seperti Damaskus, Jerussalem, Alexandria, Mekkah dan banyak tempat lainnya dia menulis buku berjudul Ihya ‘Ulum al-Din. Dan karya-karya yang lain seperti Al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat dari Kesalahan), Tahafut al-Falasifah (Kerancuran Para Filosof), Maqashid al-Falasifah (Doktrin-Doktrin para filosof) (Khan, 2004).
Selama usia 55 tahun, Imam Al-Ghazali mengabdikan dirinya selama kurang lebih 15 tahun untuk mengajar dan mendidik, selama 10 tahun untuk beruzlah. Al-Ghazali wafat pada 14 Jumadil Akhir 505 Hijriyah/ 19 Desember 1111 Masehi.
Menurut Abdul Mujib (2006), Imam Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh perintis psikolog-falsafi-tasawufi dengan menyatakan tiga daya yang terdapat pada jiwa manusia, yaitu kognisi, konasi dan emosi. Dengan begitu, maka pembagian nafsani manusia adalah: (1) daya al-qalb yang berhubungan dengan emosi (ranah rasa). Emosi itu berhubungan dengan aspek-aspek afektif; (2) daya al-‘aqal yang berhubungan dengan kognisi (ranah cipta). Kognitif itu berhubungan dengan aspek-aspek kognisi (sensasi, persepsi, pikiran); dan (3) daya hawa nafs yang berhubungan dengan konasi (ranah karsa) yang berhubungan dengan aspek-aspek psikomotorik.
Perlu diketahui bahwa pertama-tama, ilmu jiwa telah dikenal pada masyarakat Mesir Kuno tahun 1550 SM yang pada umumnya membahas tentang efektifitas dan fungsi-peran otak dan daya-daya spekulasi dari otak itu sendiri. Nah, kemudian setelah itu kira-kira pada abad keemasan Islam, awal mulanya ditengarai oleh pemikiran Ibnu Sirin dengan bukunya “a book on dreams and dream interpretation” jauh sebelum teori Freud tentang “interpretation of dreams” dalam paradigma psikoanalisis klasik. Ironisnya, umat Islam khususnya psikolog muslim masih awam dengan teorinya Ibnu Sirin, dkk yang tidak kalah penting dengan teorinya Freud khsusnya dan teori psikologi Barat lainnya, bahkan teorinya Ibnu Sirin, dkk lebih tajam dan terpercaya karena dalam analisisnya, mereka (pakar ilmu jiwa Islam) lebih banyak didasarkan pada kaidah syariat islam (al-Qur’an, as-Sunnah, pendapat ulama-ulama salaf salih). Sebagai seorang psikolog muslim, sudah saatnya kini mulai mempelajari pemikiran-pemikiran tentang ilmu jiwa dari tokoh-tokoh kita sendiri sebagai pembanding dengan teori psikologi Barat.
Setelah Ibnu Sirin, kemudian lahir ilmuwan jiwa Al-Kindi (809 – 866 Masehi) yang terkenal dalam bidang terapi musik-nya. Ali Ibnu Sahl Rabban at-Tabari dengan teori psikoterapinya (al-‘ilaj an-nafs). Al-Farabi dan Ibnu Sina yang terkenal dengan teori psikologi sosial dan studi tentang “self awareness”. Abi Ibnu Abbas Al-Majusi yang terkenal dengan salah satu teori tentang “neuroanatomy dan neuropsychology”-nya. Ibnu Tuffail dengan teori tabularasa-nya yang jauh sebelum teori tabularasa-nya filsafat Barat lahir. Abu Qasim Az-Zahrawi (abulcasis) dengan teori “neurosurgery”-nya atau ilmu bedahnya. Abu Rayhan al-Biruni dengan teori reaksi waktu. Ibnu Haithamy dengan teori eksperimennya yang selanjutnya dipelajari oleh Francis Bacon dan bukunya “books of optics” yang selanjutnya sebagai acuan Frederich Fechner, psikiater Jerman dengan “psychophisiologi”-nya. Ibnu Rusyd (Averoes) dengan teori yang ditemukan penyakit “partkinsons”. Ibnu Zuhr dengan “pharmachology”-nya. Imam ar-Razi dengan ruang psikiatrinya. Ia juga menulis kitab tentang ilmu jiwa yaitu, “Kitab al-Hawy dan el-Mansyuri” yang membicarakan tentang “sympton-sympton” dan cara penanganannya. Ibnu Sahl Al-Balkhi dengan teori kesehatan spiritual dan kesehatan mentalnya (al-tibb al-ruhani).
Khusus pada Ibnu Sahl Al-Balkhi, ia telah panjang lebar menjelaskan dan membedakan tentang “neurosis and psychosis” jauh sebelum teori psikiatri Barat muncul (yang kita pelajari saat ini). Dalam terapinya ia menggunakan terapi rasional dan terapi spiritual. Beiau mserupakan salah satu tokoh ilmu jiwa abad 10 M (850 – 934 M) yang juga mencetuskan teori tentang gangguan pada jiwa akan mempengaruhi gangguan pada badan begitu juga sebaliknya. Ia berkata bahwa “Jika jiwa sakit, maka tubuh tidak akan dapat merasakan kenikmatan hidup dan hal itu dapat menyebabkan penyakit jiwa”. Selanjutnya ia mengatakan bahwa gangguan depresi itu disebabkan oleh dua macam sebab yaitu; (a) faktor alasan yang diketahui, misalnya kegagalan, maka akan menimbulkan gangguan psikologis, dan (b) faktor yang tidak diketahui, maka gangguan ini membutuhkan bantuan psikiatris.
Pada masa keemasan Islam, selain telah memunculkan tokoh-tokoh diatas, masyarakat muslim juga telah mendirikan Rumah Sakit Jiwa pertama di Baghdad, Irak tahun 765 Masehi, Rumah Sakit Jiwa Islam di kota Fes, Kairo, Mesir pada tahun 800 Masehi, di Damaskus dan Allepo tahun 1270 Masehi jauh sebelum Rumah Sakit Jiwa Inggris “middle sex county assilum” yang didirikan tahun 1831 Masehi (Republika edisi Selasa, 3 Juni 2008).
Itulah tadi sekelumit tentang betapa peradaban Islam pada abad pertengahan pernah mempunyai pemikir-pemikir ilmu jiwa yang teori-teorinya hampir sama dengan yang saat ini sedang kita pelajari dalam teori psikologi umum, psikologi kepribadian, psikologi klinis, psikoterapi dan lain-lain. Oleh karena itu marilah kita pelajari sedikit tentang jiwa menurut Al-Ghazali yang muncul pada masa-masa abad ke 10, periode setelah Ibnu Sahl Al-Balkhi, tokoh ilmu jiwa abad 9 M (850 – 934 M). Kenyataan di atas memberikan angin segar bagi pengembangan keilmuan psikologi yang integratif-interkonektif.
Psikologi, menurut al-Ghazali adalah ilmu yang mengkaji tentang jiwa. Ia menganggap bahwa pengetahuan mengenai jiwa merupakan jalan untuk mengetahui tentang Allah (ma’rifatullah). Ia menyebutkan bahwa jejak-jejak di mana dapat terlihat keagungan Sang pemilik kebenaran dan kesempurnaan sifat adalah ma’rifat jiwa.
Dalam kajiannya tentang jiwa, terdapat dua macam psikologi yaitu psikologi yang membahas tentang daya jiwa hewan, daya manusia, daya penggerak dan daya jiwa sensoris, dan kedua adalah psikologi yang membahas tentang olah jiwa, perbaikan akhlak dan terapi akhlak tercela. Jadi jiwa bisa diartikan adalah kesempurnaan pertama (tidak melalui kesempurnaan yang lain) bagi fisik alamiah (bukan bersifat buatan) yang sifatnya mekanistik (memiliki alat-alat tertentu yang dipakai oleh kesempurnaan tersebut untuk memperoleh kesempurnaan berikutnya) (Netty Hartati dkk, 2004).
Menurut Hasan Langgulung, pandangan Al-Ghazali mengenai jiwa erat kaitannya dengan ilmu jiwa (psikologi). Apabila pemikiran Al-Ghazali tentang kejiwaan dalam Islam dikaji secara mendalam, maka orang akan sampai kepada kesimpulan bahwa Al-Ghazali adalah seorang “psikolog Muslim terbesar sepanjang zaman”. Hal itu tidak berlebihan karena pengaruhnya dalam dunia ilmu jiwa atau psikologi sangat besar dan pemikirannyatentang pembagian jiwa dan fungsinya mempengaruhi psikologi modern. Pendapatnya tentang motivasi, pembentukan kebiasaan, kemauan, pengamatan, ingatan, dan daya khayal merupakan sumbangan besar bagi dunia psikologi modern. Lebih dari manusia, suatu kajian yang belum mampu dilakukan oleh para psikolog modern dewasa ini (Jaya, 1994).
Dalam pada itu Zakiah Daradjat mengatakan pula bahwa kalau dikaji ajaran Islam mengani kejiwaan, dan dibandingkan dengan pemikirannya Al-Ghazali tentang kejiwaan, maka hasil dari pengkajian itu nanti akan sampai pada kesimpulan bahwa Al-Ghazali adalah tokoh penting dalam ilmu jiwa atau “psikologi agung”, yang karya-karyanya tentang ilmu jiwa bersumberkan al-Qur’an dan as-Sunnah (Daradjat, 1979). 
Ahmad Tafsir (2004) menyatakan bahwa Al-Ghazali merupakan satu-satunya ilmuwan Muslim yang berusaha menggabungkan antara kekuatan hati dan kekuatan akal. Al-Ghazali berusaha menyeimbangkan kedua-duanya. Al-Ghazali ingin akal dan hati, iman dan filsafat, bekerjasama secara harmonis, difungsikan secara sama besar, digunakan secara simultan. Usaha sintesis oleh Al-Ghazali inimemang belum selesai. Dan sebenarnya ada tokoh lain yang masih melanjutkannya tetapi tidakkami bahas dalam tulisan ini.Usaha Al-Ghazali itu membuktikan bahwa dominasi akal yang tidak seimbang dengan dominasi hati akan merugikan Islam dan umat Islam, demikian juga dominasi hati yang tidak seimbang dengan dominasi akal. Keseimbangan dominasi ini, keseimbangan akal dan hati, keseimbangan pikir dan dzikir dapat dilakukan dalam Islam (Tafsir, 2004).

B.    Struktur Kepribadian menurut Freud dan Al-Ghazali
Dalam penelitian ini, pengertian struktur kepribadian menunjukkan tiga elemen pokok, yaitu: pertama, struktur kepribadian adalah suatu komponen yang mesti ada dalam setiap pribadi, yang menentukan konsep kepribadian sebenarnya; kedua, eksistensi struktur dalam kepribadian manusia memiliki ciri-ciri relatif stabil, menetap dan abadi. Maksud dari ciri-ciri ini adalah bahwa secara proses psikologis aspek-aspek yang terdapat pada kepribadian itu memiliki sunnah yang menetap sesuai dengan irama dan pola perkembangannya. Secara potensial masing-masing aspek kepribadian ini menetap dan tidak ada perubahan, tetapi secara aktual aspek-aspek ini berubah sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhinya. Pola seperti merupakan sunatullah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT; dan ketiga, kepribadian individu merupakan aktualisasi dari proses integrasi sistem-sistem atau aspek-aspek struktur yang berbentuk seperti berpikir, berperasaan, bertindak, dan sebagainya (Mujib, 2006).
Disisi lain Hall dan Lindzey (1993), menyatakan bahwa aspek-aspek kepribadian yang bersifat relatif stabil, menetap, dan abadi serta merupakan unsur-unsur pokok pembentukan tingkah laku individu. Kurt Lewin dari psikologi medan menyatakan bahwa struktur kepribadian adalah cara melukiskan sebagai suatu entitas yang terpisah dari hal-hal lainnya yang ada di dunia.
Teori Freud mengenai kepribadian dapat diikhtisarkan dalam rangka struktur, dinamika dan prekembangan kepribadian. Menurut Freud, kehidupan jiwa (psikis) tersebut memiliki tiga tingkatan kesadaran, yaitu: sadar (conscious), prasadar (preconcious) dan tak sadar (unconscious). Topografi atau peta kesadaran ini dipakai untuk menjelaskan unsur cermati (awareness) dalan setiap peristiwa mental, seperti berpikir, berfantasi, berperilaku dan bersikap. Menurut Wisol (2005), sampai dengan tahun 1920-an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan tiga unsur kessadaran itu. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model istilah struktural yang lain, yaitu; id, ego dan superego. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama tetapi hanya melengkapi dan menyempurnakan gambaran mental terutama dalam fungsi atau tujuannya.
Enam elemen pendukung struktur kepribadian tersebut adalah sebagai berikut:
1.     Sadar (conscious)
Tingkat kesadaran yang berisi semua hal yang kita cermati pada saat tertentu, menurut Freud hanya sebagian kecil saja dari kehidupan mental kita, seperti pikiran, persepsi, perasaan dan ingatan yang masuk kedalam kesadaran kita (conciousness). Isi daerah sadar tersebut merupakan hasil proses penyaringan yang diatur oleh stimulus atau cue eksternal. Isi-isi kesadaran itu hanya bertahan dalam waktu yang singkat di daerah conscious dan segera tertekan ke dalam daerah preconcious atau bahkan ke dalam daerah unconscious begitu orang tersebut memindahkan perhatiannya ke cue yang lain (Al-Wisol, 2005).
2.     Prasadar (preconcious)
Daerah ini disebut juga dengan daerah ingatan siap (available emamory), yakni tingkat kesadaran yang menjadi jembatan antara daerah tak sadar dan daerah sadar. Isi daerah preconcious (prasadar) berasal dari conscious (kesadaran) dan dari unconscious (tidak sadar). Pengalaman yang ditinggal oleh perhatian, semula disadari tetapi kemudian tidak lagi dicermati dan akan ditekan dengan pindah ke daerah prasadar (preconcious). Sedangkan pada sisi lain isi daerah tak sadar (unconscious) dapat muncul ke daerah prasadar (preconcious). Ketika sensor sadar (conscious) menangkap bahaya yang disebabkan oleh materi tak sadar (unconscious), maka materi tersebut akan ditekan kembali kedalam daerah ketidak sadaran (unconscious). Materi tak sadar yang sudah berada di dalam daerah prasadar (preconcious) itu bisa muncul kedalam daerah kesadaran (conscious) dalam bentuk simbolik, seperti mimpi, lamunan, salah ucap/ kepleset lidah (Freudian slip atau slip of tongue) dan mekanisme pertahanan diri (defense of mechanism).
3.     Tak sadar (unconscious)
Daerah ini merupakan bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran. Menurut Freud, daerah inilah yang merupakan bagian terpenting dari jiwa manusia. Secara khusus, Freud membuktikan bahwa ketidaksadaran (unconscious) bukanlah abstraksi hipotetik tetapi itu adalah suatu kenyataan empiris. Ketidaksadaran tersebut berisi insting-insting, impuls-impuls, dan dorongan-dorongan yang dibawa sejak lahir dan pengalaman-pengalaman traumatis pada masa lalu (masa anak-anak) yang ditekan oleh kesadaran (conscious) dan dipindah ke dalam daerah ketidaksadaran (unconscious). Isi atau materi ketidaksadaran ini memiliki kecenderungan yang kuat untuk bertahan terus dalam ketidaksadaran  sehingga pengaruhnya dalam mengatur tingkahlaku sangat kuat namun tetap disadari (Al-Wisol, 2005).
4.     Id (Is [Latin] atau Es [Jerman])
Id adalah sistem kerpibadian yang asli yang dibawa semenjak lahir. Dari Id ini kemudian akan muncul Ego dan Superego. Ketika dilahirkan, Id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti: insting-insting, impuls-impuls dan dorongan-dorongan. Id berada dan beroperasi di dalam daerah ketidaksadaran (unconscious) mewakili subjektivitas yang tidak pernah disadari srpanjang usia. Id berhubungan erat dengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untuk mengoperasikan sistem dari struktur kepribadian yang lainnya (Al-Wisol, 2005).
Das Es atau dalam bahasa inggris the id disebut juga oleh Freud System der Unbewussten. Aspek ini adalah aspek biologis dan merupakan sistem yang original di dalam kepribadian; dari aspek inilah kedua aspek yang lain tumbuh. Freud menyebutnya juga realitas psikis yang sebenar-benarnya (The true psychic reality), oleh karena menurut Suryabrata (2007) Das Es itu merupakan dunia batin atau subjektif manusia, dan tidak mempunyai hubungan langsung dengan dunia objektif. Das Es berisikan hal-hal yang dibawa sejak lahir (unsur-unsur biologis), termasuk instink-instink; Das Es merupakan “reservoir” energi psikis yang menggerakan Das Ich dan Das Ueber Ich. Energi psikis di dalam Das Es itu dapat meningkat oleh karena perangsang; baik perangsang dari luar maupun perangsang dari dalam.
Apabila energi itu meningkat, maka lalu menimbulkan tegangan, dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan) yang oleh Das Es tidak dapat dibarkan; karena itu apabila energi meningkat, yang berarti ada tegangan, segeralah Das Es mereduksikan energi itu untuk menghilangkan rasa tidak enak itu. Jadi yang menjadi pedoman dalam berfungsinya Das Es adalah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan; pedoman ini disebut Freud “prinsip kenikmatan” atau “prinsip keenakan” (Luzt prinzip, the pleasure principle). Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai kenikmatan itu Das Es mempunyai dua cara (alat proses), yaitu:
a)       Refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip, dan sebagainya.
b)      Proses primer (primair vorgang), seperti misalnya orang lapar membayangkan makanan (wishfullfillment, wensvervulling).
Akan tetapi jelas bahwa cara “ada” yang demikian itu tidak memenuhi kebutuhan; orang yang lapar tidak  akan menjadi kenyang dengan membayangkan makanan.  Karena itu maka perlulah (merupakan keharusan kodrati) adanya sistem lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia objektif. Sistem yang demikian itu ialah Das Ich (Suryabrata, 2007).
Id beroperasi berdasarkan “prinsip kesenangan” (pleasure principle), yaitu: berusaha memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relatif inaktif atau tingkat energi yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan energi yang mendambakan kepuasan. Jadi ketika ada rangsangan (stimuli) yang memicu energi untuk bekerja sehingga menimbulkan ketegangan energi, maka Id beroperasi dengan prinsip kenikmatan; berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan tersebut; mengembalikan diri ketingkat energi yang rendah. Prinsip kenikmatan (pleasure principle) diproses dengan dua cara, yaitu: tindak repfleks (reflex actions) dan proses primer (primary process).
Tindak refleks adalah reaksi otomatis yang dibawa sejak lahir seperti mengedipkan mata – dipakai untuk menangani untuk memuaskan rangsang sederhana dan biasanya segera dapat dilakukan. Proses primer adalah rekasi membayangkan tentang sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan – dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang lapar membayangkan makanan atau puting ibunya. Proses membentuk gambaran objek yang dapat mengurangi tegangan disebut pemenuhan hasrat (wish fullfillment), misalnya mimpi, lamunan dan halusinasi psikotik (Al-Wisol, 2005).
Id hanya mampu membayangkan sesuatu tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar – salah, tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itu secara nyata, yang memberi kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan baru khususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemudian membuat Id memunculkan Ego.
Pada permulaan psikologi modern, kehidupan psikis diindentikkan begitu saja dengan kesadaran. Pandangan ini dipelopori oleh seorang filsuf Prancis Rene Descartes (1596-1650) yang juga dijuluki “Bapak Filsafat Modern”. Menurut Descartes, anggapan adanya aktivitas psikis yang tidak disadari merupakan sebuah kontradiksi. Hidup psikis sama dengan kesadaran. Persamaan antara hidup psikis dengan kesadaran ditekankan dengan cara yang ekstreem oleh murid Descartes dari Belanda, Arnold Geulincx (1624-1669).
Salah satu pernyataannya yang terkenal adalah Si facio acio quomodo fiat,”Jika saya melakukan sesuatu, saya tahu juga bagaimana hal itu terjadi.” Maksudnya, jika saya melakukan sesuatu, bukan saja saya tahu bahwa saya melakukannya, tetapi saya juga tahu bagaimana saya melakukannya. Seandainya saya melakukan sesuatu tanpa menyadarinya (misalnya, dalam keadaan tertidur, maka bukan sayalah yang melakukannya. Karena Freud, kita tahu bahwa ada juga aktivitas-aktivitas yang tidak disadari oleh subjek yang bersangkutan sendiri.
Freud menggunakan istilah Id untuk menunjukkan wilayah ketaksadaran tersebut. Id merupakan lapisan paling dasar dalam struktur psikis seorang manusia. Id meliputi segala sesuatu yang bersifat impersonal atau anonim, tidak disengaja atau tidak disadari, dalam daya-daya mendasar yang menguasai kehidupan psikis manusia. Oleh karena itu, Freud memilih istilah “Id” (atau bahsa aslinya “Es”) yang merupakan kata ganti orang neutrum atau netral.
Dalam Id berlaku : bukan aku (subjek) pelakunya, melainkan ada yang melakukan dalam diri aku. Bagi Freud , adanya Id telah terbukti terutama melalui tiga cara.
Pertama, fenomena psikis yang paling jelas membuktikan adanya Id adalah mimpi. Tentang mimpi berlaku bahwa “bukan sayalah yang bermimpi tapi ada yang bermimpi dalam diri saya”. Pada saat bermimpi, si pemimpi sendiri seolah-olah hanya merupakan penonton pasif. Ia bukan pelaku. Tontonan itu ditayangkan oleh ketaksadarannya. Dalam bukunya Penafsiran Mimpi (1900), bukunya yang pertama, Freud banyak membahas tentang mimpi.
Kedua, bukti lainnya adalah jika dipelajari perilaku-perilaku yang sepertinya biasa-biasa saja alias tak punya arti, seperti perilaku keliru, salah ucap (keseleo lidah – dalam istilah Freud dikenal dengan istilah Freudian slip), lupa dan sebagainya. Bagi Freud, perilaku-perilaku tersebut bukanlah sesuatu yang kebetulan belaka, tetapi besumber dari dari aktivitas psikis yang tak disadari. Misalnya, ketua parlemen Austria pernah membuka sidang sambil berkata: “Dengan ini sidang saya tutup”, seraya mengetokkan palu. Padahal maksudnya berkata “Buka”, tetapi yang keluar dari mulutnya justru kata “tutup”. Mengapa demikian? Karena bagi sang ketua, sidang hari itu cukup berat. Ia ingin sekali agar sidang itu cepat selesai. Keinginan yang tak disadari itu mengakibatkan ia keseleo lidah. Atau contoh dari salah satu murid Freud yang lupa mengeposkan surat. Saat merefleksikan kejadian itu, ia sampai pada satu kesimpulan bahwa ia “lupa” mengeposkan suratnya karena isinya tentang sesuatu yang amat berat baginya. Secara tak disadari, ia sebetulnya tidak mau mengirimkan surat itu, dan karena itu ia sampai “lupa”. Freud menunjukkan bahwa perbuatan-perbuatan seperti itu adalah berasal dari ketaksadaran. Hal ini dibahas Sigmund Freud dalam bukunya Psikopatologi tentang Hidup Sehari-hari (1901) .
Ketiga, alasan paling penting bagi Freud untuk menerima adanya alam tak sadar ini adalah pengalamannya dengan pasien-pasien penderita neurosis. Penyakit neurosis merupakan teka-teki yang besar bagi kalangan kedokteran pada waktu itu. Secara fisiologis, pasien-pasien itu tidak mengidap kalainan apa pun, namun secara fakta mereka mempunyai berbagai macam gejala aneh. Freud menemukan bahwa neurosis disebabkan oleh faktor-faktor tak sadar. Misalnya, seorang wanita muda berusia 21 tahun yang menderita histeria, yang oleh kebanyakan dari kita disebut “kesurupan”. (Histeria merupakan salah satu contoh dari neurosis). Untuk beberapa waktu, wanita ini tidak bisa minum air sama sekali. Untuk menghilangkan rasa hausnya, ia hanya makan buah-buahan saja. Keadaan ini berlangsung selama lebih kurang enam minggu, sampai pada suatu hari, dalam keadaan terhipnotis ia bergumam tentang guru privatnya yang tak disukainya. Dan sambil menyatakan rasa muaknya, diceritakannya bagaimana pada suatu hari ia masuk kamar wanita ini dan di situ ia melihat anjing kecilnya – binatang yang menjijikkan – minum dari sebuah gelas. Pasien tersebut tidak berkata apa-apa, karena ia menjaga perilaku sopan. Setelah dengan hebat ia mengeluarkan kemarahannya yang sudah sekian lama terpendam dalam hati, ia minta minuman. Ia minum banyak sekali air dengan menggunakan gelas tanpa kesulitan apa pun, setelah tersadar dari pengaruh hipnotis. Setelah terapi tersebut, gangguan itu hilang sama sekali dan tak pernah kambuh lagi. Freud menemukan bahwa pasien neurotis bisa disembuhkan dengan jalan menggali kembali trauma psikis yang terpendam dalam ketaksadarannya.
Pertanyaan yang perlu dimajukan sekarang adalah, jika Id merupakan wilayah yang berada di luar kesadaran manusia, maka secara konkrit Id itu terdiri dari apa? Dan isinya apa? Menurut Freud, Id terdiri dari naluri atau instink-instink bawaan (khususnya naluri seksual), agresivitas dan keinginan-keinginan yang direpress.
Pada permulaan hidup manusia, kehidupan psikisnya hanyalah terdiri dari Id saja. Pada janin dalam kandungan dan bayi yang baru lahir, hidup psikisnya seratus prosen sama identik dengan Id. Id tersebut nyaris tanpa struktur apa pun dan secara menyeluruh dalam keadaan kacau balau. Namun demikian, Id itulah yang menjadi bahan baku bagi perkembangan psikis lebih lanjut.
Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan biologis manusia - pusat insting (hawa nafsu, istilah dalam agama). Ada dua insting dominan, yakni : (1) Libido – instink reproduktif yang menyediakan energi dasar untuk kegiatan-kegiatan manusia yang konstruktif; (2) Thanatos – instink destruktif dan agresif. Yang pertama disebut juga instink kehidupan (eros), yang dalam konsep Freud bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan kepada Tuhan, cinta diri (narcisisme). Bila yang pertama adalah instink kehidupan, yang kedua merupakan instink kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Id bergerak berdasarkan kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia. (Jalaluddin Rakhmat M.sc, Psikologi Komunikasi, 1986)
Pada mulanya, Id sama sekali berada di luar kontrol individu. Id hanya melakukan apa yang disukai. Ia dikendalikan oleh “prinsip kesenangan” (the pleasure principle). Pada Id tidak dikenal urutan waktu (timeless). Hukum-hukum logika dan etika sosial tidak berlaku untuknya. Dalam mimpi seringkali kita melihat hal-hal yang sama sekali tidak logis. Atau pada anak kecil, kita bisa melihat bahwa perilaku mereka sangat dikuasai berbagai keinginan. Untuk memuaskan keinginan tersebut, mereka tak mau ambil pusing tentang masuk akal-tidaknya keinginan tersebut. Selain itu, juga tidak peduli apakah pemenuhan keinginan itu akan berbenturan dengan norma-norma yang berlaku. Yang penting baginya adalah keinginannya terpenuhi dan ia memperoleh kepuasan. Demikianlah gambaran selintas tentang Id. Bagaimana pun keadaannya Id tetap menjadi bahan baku kehidupan psikis seseorang

Freud menggunakan istilah “Id” untuk menamakan suatu perampungan dorongan instink-instink yang tidak tersusun. Dengan bekerja dibawah dominasi proses primer, Id tidak mempunyai kemampuan untuk memperlambat atau memodifikasi dorongan intinktual dengan mana bayi dilahirkan. Tetapi Id tidak boleh dianggap sebagai sinonim dengan bawah sadar, karena baik Ego dan Superego mempunyai komponen bawah sadar (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).

Id merupakan reservoir energi psikis yang menggerakkan Ego dan Superego. Energi psikis dalam Id dapat meningkat karena adanya rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar individu. Apabila energi psikis ini meningkat, akan menimbulkan pengalaman tidak enak (tidak menyenangkan). Id tidak bisa membiarkan perasaan ini berlangsung lama. Karena itu, segeralah id mereduksikan energi tersebut untuk menghilangkan rasa tidak enak yang dialaminya. Jadi, yang menjadi pedoman dalam berfungsinya Id adalah menghindarkan diri dari ketidakenakan dan mengejar keenakan.
Untuk menghilangkan ketidakenakan dan mencapai keenakan ini, id mempunyai dua cara, yang pertama adalah: refleks dan reaksi-reaksi otomatis, seperti misalnya bersin, berkedip karena sinar, dan sebagainya, dan yang ke dua adalah proses primer, seperti misalnya ketika orang lapar biasanya segera terbayang akan makanan; orang yang haus terbayang berbagai minuman. Bayangan-bayangan seperti itu adalah upaya-upaya yang dilakukan id untuk mereduksi ketegangan akibat meningkatnya energi psikis dalam dirinya.
Cara-cara tersebut sudah tentu tidak dapat memenuhi kebutuhan. Orang lapar tentu tidak akan menjadi kenyang dengan membayangkan makanan. Orang haus tidak hilang hausnya dengan membayangkan es campur. Karena itu maka perlu (merupakan keharusan kodrat) adanya sistem lain yang menghubungkan pribadi dengan dunia objektif. Sistem yang demikian itu ialah Ego.
5.     Ego (Das Ich [Jerman])
Ego berkembang dari Id agar orang mampu menangani realita, sehingga Ego beroperasi mengikuti prinsip realita (reality principle); usaha memperoleh kepuasan yang dituntut Id dengan mencegah terjadinya tegangan baru atau menunda kenikmatan sampai ditemukan objek yang nyata-nyata dapat memuaskan kebutuhan. Prinsip realita tersebut dikerjakan melalui proses sekunder (secondary process), yakni berpikir realistik menyusun rencana dan menguji apakah rencana tersebut menghasilkan objek yang dimaksud. Proses pengujian itu disebut dengan uji realita (reality testing); melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana yang telah dipikirkan secara realistic. Dari cara kerjanya dapat dipahami sebagian besar daerah operasi Ego berada di daerah kesadaran (conciousnes), namun ada sebagian kecil Ego beroperasi di daerah prasadar (preconciousnes) dan daerah tak sadar (unconciousnes).
Das Ich atau dalam bahasa inggris the ego menurut Suryabrata (2007), disebut juga System der Bewussten-Vorbewussten. Aspek ini adalah aspek  psikologis daripada kepribadian dan timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataan (realitat). Orang yang lapar mesti perlu makan untuk menghilangkan tegangan yang ada dalam dirinya; ini berarti bahwa organisme harus dapat membedakan antara khayalan tentang makanan dan kenyataan tentang makanan. Disinilah letak  perbedaan yang pokok antara Das Es dan Das Ich, yaitu kalau Das Es itu hanya mengenal dunia subjektif (dunia batin) maka Das Ich dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di dunia luar (dunia objektif, dunia realitas).
Ego memiliki semua ketiga dimensi topografik kesadaran, prasadar, dan bawah sadar. Pikiran logika dan abstrak dan ekspresi verbal adalah berhubungan dengan fungsi kesadaran dan prasadar dari ego. Mekanisme pertahanan tetap dalam bagian yang tidak disadari dari Ego. Ego merupakan organ pelaksana (executive) dari jiwa dan mengontrol pergerakan, persepsi, kontak dengan kenyataan dan melalui mekanisme pertahanan yang ada padanya, memperlambat dan memodifikasi dorongan ekspresi (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).
Frued percaya bahwa modifikasi Id terjadi sebagai akibat efek dunia eksternal pada dorongan. Tekanan kenyataan eksternal memungkinkan Ego menyesuaikan energinya dengan Id untuk melakukan kerja Ego. Saat Ego membawa pengaruh dari dunia luar untuk menunjang Id secara bersama-sama Ego menggantikan prinsip kenyataan (reality principle) dengan prinsip kesenangan (pleassure principle). Freud menyadari peranan konflik di dalam model struktural dan mengamati bahwa konflik pada awalnya adalah antara Id dan dunia luar, hanya kemudian ditransformasikan kepada konflik antara Id dan Ego.
Di dalam fungsinya Das Ich berpegang pada “prinsip kenyataan” atau “prinsip realitas” (Realitatsprinzip, the reality principle) dan bereaksi dengan proses skunder (Skunder Vorgang, secondary process). Struktur adalah “komposisi pengaturan bagian-bagian komponen dan susunan suatu kompleks keseluruhan.” (Drever, 1986). Sedangkan Chaplin mendefinisikan struktur dengan “satu organisasi permanen, pola atau kumpulan unsur-unsur yang bersifat relatif stabil, menetap, dan abadi”.  Para  psikolog menggunakan istilah ini untuk menunjukkan pada proses-proses yang memiliki stabilitas. Berdasarkan pengertian itu, struktur kepribadian diartikan sebagai “integrasi dari sifat-sifat dan system-sistem yang menyusun kepribadian”. (Chaplin, 1989).
Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian yang memiliki dua tugas utama, yaitu pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan insting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua, menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan tersebut dipuaskan sesuai dengan tersedianya peluang yang resikonya paling sedikit. Dengan perkataan lain, Ego adalah sebagai eksekutif kepribadian, berusaha memenuhi kebutuhan Id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dan kebutuhan berkembang mencapai kepada kesempurnaan dari Superego. Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan Id. Oleh karena itu Ego yang tidak memeiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari Id (Al-Wisol, 2005). 
6.     Superego (Das Ueber Ich [Jerman])
Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yan beroperasi memakai prinsip idealistic (idealistic principle) sebagai lawan dari prinsip kepuasan Id dan prinsip realistik dari Ego. Superego berkembang dari, dan seperti Ego dia tidak mempunyai energi sendiri. Sama dengan Ego, Superego beroperasi pada tiga daerah kesadaran. Namun berbeda dengan Ego, dia tidak mempunyai kontak dengan dunia luar (sama dengan Id) sehingga kebutuhan kesempurnaan yang diperjuangkannya tidak realistik (Id tidak realistik dalam memperjuangkan kenikmatan).
Superego menegakkan dan mempertahankan kesadaran moral seseorang atas dasar kompleks sistem ideal dan nilai-nilai yang diinternalisasikan dari orangtua. Freud memandang Superego sebagai pewaris Kompleks Oedipus (Oedipus Complex). Dengan kata lain anak menginternalisasikan nilai-nilai dan standar dari orangtuanya sejak usia sekitar 5 atau 6 tahun. Superego selanjutnya berfungsi sebagai suatu agen yang memungkinkan meneliti dengan cermat tentang perilaku, dan perasaan seseorang. Ia membuat perbandingan dengan standar perilaku yang diharapkan dan menawarkan persetujuan atau penolakan. Aktivitas tersebut sebagian besar terjadi secara tidak disadari.
Ego-Ideal seringkali dianggap sebagai komponen Superego. Ia merupakan agen yang menginstruksikan apa yang harus dilakukan seseorang menurut standar dan nilai yang diinternalisasikan. Sebaliknya, Superego adalah agen dari kesadaran moral yang melarang (proscribe) – yaitu yang menentukan apa yang tidak boleh dilakukan seseorang. Melalui periode laten dan setelahnya, seseoran telah membangun identifikasi awal melalui kontaknya dengan orang lain yang dikagumi yang berperan dalam pembentukan standar moral, aspirasi dan ideal (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).
Prinsip Idealistic mempunyai dua sub-prinsip, yaitu conscience dan ego ideal. Superego pada hakekatnya merupakan elemen yang mewakili nilai-nilai orang tua atau interpretasi orang tua mengenai standar social yang diajarkan kepada anak melalui berbagailarangan dan perintah. Apapun tingkahlaku yang dilarang, dianggap salah dan dihukum oleh orang tua, akan diterima anak menjadi suara hati (conscience), yang berisi apa saja yang tidak boleh dilakukan. Apapun yang disetujui, dihadiahi dan dipuji orangtua akan diterima manjadi standar kesempurnaan atau Ego ideal, yan berisi apa saja yang seharusnya dilakukan. Proses mengembangkan conscience dan Ego ideal, yang berarti menerima standar salah dan benar itu disebut dengan introyeksi (introjection). Sesudah terjadi introyeksi, kontrol pribadi akan mengganti control orang tua (Al-Wisol, 2005).
Superego bersifat non-rasional dalam menuntut kesempurnaan, menghukum dengan keras kesalahan Ego, baik yang telah dilakukan maupun baru dalam pikiran. Superego juga seperti Ego dalam hal mengontrol Id, bukan hanya menunda pemuasan tetapi merintangi pemenuhannya. Paling tidak ada tiga fungsi Superego; (1) mendorong Ego menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistik, (2) merintangi impuls Id, terutama impuls seksual dan agresif yang bertentangan dengan standar nilai masyarakat, dan (3) mengejar kesempurnaan. Struktur kepribadian Id – Ego – Superego itu bukan bagian-bagian yang menjalankan kepribadian, tetapi itu adalah nama dari sistem struktur dan proses psikologik yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Biasanya sistem-sistem tersebut bekerja bersama sebagai team dibawah arahan Ego. Bari kalau timbul konflik diantara ketiga struktur itu, mungkin sekali muncul tingkahlaku abnormal.  
Kendatipun ketiga itu masing-masing mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dinamika sendiri-sendiri, namun ketiganya berhubungan dengan rapatnya sehingga sukar (tidak mungkin) untuk memisah-misahkan pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia; tingkah laku selalu merupakan hasil sama dari ketiga aspek itu.

D. Fungsi Ego

Ahli Psikologi Ego modern telah mengindentifikasi sekumpulan fungsi Ego dasar yang menandai kerja ego. Penjelasan berikut ini mencerminkan iktivitas ego yang umumnya dianggap sebagai mendasar (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).
1. Kontrol dan Pengaturan Dorongan Intinktual.
Perkembangan kemampuan untuk memperlambat atu menunda pelepasan dorongan sangat berhubungan dengan perkembangan prinsip kesenangan kepada prinsip kenyataan dimasa anak-anak awal. Kemampuan tersebut juga merupakan aspek yang penting dari peranan Ego sebagai mediator antara Id dan dunia luar. Bagian dari sosialisasi dengan dunia luar adalah perolehan bahasa dan proses berpikir sekunder atau logika.
2. Pertimbangan.
Fungsi Ego sangat berhubungan erat dengan pertimbangan yang melibatkan kemampuan menghadapi akibat dari tindakan seseorang. Seperti kontrol dan pengaturan dorongan instinctual, pertimbangan berkembang bersamaan dengan perkembangan proses berpikir secara logis memungkinkan penilaian bagaimana perilaku merenung seseorang dapat mempengaruhi yang lainnya.
3. Hubungan dengan Kenyataan
Perantara antara dunia internal dan kenyataan eksternal adalah suatu fungsi Ego yang penting. Hubungan dengan dunia luar dapat dibagi menjadi tiga aspek, yaitu: (1) rasa kenyataan; (2) tes realitas; dan (3) adaptasi dengan realitas. Rasa realitas berkembang bersama –sama dengan timbulnya kesadaran bayi akan sensasi tubuh. Kemampuan untuk membedakan apa yang ada diluar tubuh dan apa yang ada diluat aspek yan penting dari rasa realitas, dan gangguan ikatan tmubuh, seperti depersonalisasi, mencerminkan gangguan fungsi ego. Tes realitas yaitu suatu fungsi Ego yang mempunyai kepentingan tinggi, dimaksudkan pada kemampuan untuk membedakan fantasi internal dari dari kenyataan eksternal. Fungsi tersebut membedakan orang psikotik dari orang non-psikotik. Adaptasi dengan kenyataan melibatkan kemampuan seseorang menggunakan kemampuannya untuk mengembangkan respons yang efektik terhadap perubahan lingkungan atas dasar pengalaman sebelumnya dengan kenyataan (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).
4. Hubungan Objek
Kemampuan membentuk hubungan yang saling memuaskan dalam sebagian hal adalah, berhubungan dengan pola internalisasi yang berakar  dariinteraksi awal dengan orangtua dan orang yang penting lainnya. Istilah “objek” dimaksudkan pada hubungan bayi dengan orang lain. Kemampuan tersebut juga merupakan fungsi mendasar dari Ego, didalamnya hubungan pemuasan berhubungan dengan kemampuan mengintegrasikan aspek positif dan aspek negatif dari orang lain dan diri sendiri dan untuk mempertahankan perasaan internal orang lain bahkan jika mereka tidak ada. Demikian juga menguasai dorongan adalah penting untuk pencapaian hubungan yang memuaskan. Walaupun Freud tidak mengembangkan suatu teori hubungan objek yang luas, tetapi seorang ahli psikonalisis Inggris seperti Ronald Fairbairn (1889-1964) dan Michael Balint (1886-1970), merinci stadium awal hubungan bayi dengan objek yang memuaskan kebutuhannya dan pada perkembangan bertahap rasa terpisah dari ibu (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).
Sejawat dari inggris yang lain, yaitu Donald W. Winnicot (1897-1971) menggambarkan objek transisional (sebagai contohnya selimut, boneka, beruang, dot) sebagai penghubung antara anak yang sedang berkembang dengan ibunya. Anak mampu untuk berpisah dari ibunya dari ibunya karena objek transisional memberikan perasaan keamanan ketika ibunya tiada (tidak ada).

5. Fungsi Sintetik dari Ego

Pertama kali dijelaskan oleh Herman Nunberg pada tahun 1931. Menurutnya, fungsi sintetik adalah kemampuan Ego untuk mengintegrasikan elemen yang bermacam-macam menjadi kesatuan keseluruhan. Sebagai contohnya, berbagaiaspek dari diri sendiri dan orang lain, disintesis menjadi suatu gambaran yang konsisten yangbertahan dengan berjalannya waktu. Fungsi tersebut juga termasuk mengorganisasikan, mengkoordinasikan dan menggeneralisasikan a tau menyederhanakan sejumlah besar data (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).

6. Fungsi Otonom Primer dari Ego

Berkembang langsung dari karya Heinz Hartman, fungsi otonom primer adalah apparatus rudimeter yang ditemukan pada saat lahir dan berkembang secara mandiri dari konfik intrapsikis antara dorongan dan pertahanan, asalkan apa yang disebut Hartman sebagai lingkungan diharapkan rata-rata (average expectable environmet) adalah tersedia untuk bayi. Fungsi tersebut termasuk persepsi, belajar, kecerdasan, intuisi, bahasa, pikiran, pemahaman dan pergerakan. Dalam perjalanan perkembangan, beberapa aspek Ego yang bebas dari konflik akhirnya menjadi terlibat dalam konflik jika mereka menghadapi kekuatan yang berlawanan.

7. Fungsi Otonom Sekunder dari Ego

Hartman pada awalnya menggunakan konsep pandangan bebas konflik dari fungsi Ego untuk mengidentifikasi bidang otonomi primer. Tetapi area tersebut dapat diperluas oleh fungsi yang awalnya timbul dalam tugas pertahanan melawan dorongan tetapi selanjutnya menja,di berdiri sendiri darinya. Fungsi tersebut dinamakan fungsi Ego otonom sekunder. Sebagai contohnya, seorang anak dapat mengembangkan fungsi mengasuh selam tahun pertama kehidupannya. Kemudian, fungsi pertahanan dalam gaya itu dapat dinetralisasikan jika anak bertambah besar menjadi pekerja sosial dan merawat orang tuna wisma (Kaplan, Sadock & Grebb,1997).
Tabel 6. Pembagian Struktur Jiwa menurut Sigmund Freud
ID
EGO
SUPEREGO
Original system, asal muasal dan system yang lain. Berisi insting dan penyedia energi psikis untuk dapat beroperasinya system yang lain. Hanya mengetahui dunia dalam; tidak berhubungan dengan dunia luar, tidak memiliki pengetahuan mengenai realitas objek.
Berkembang dari Id untuk menangani dunia eksternal. Memperoleh energi dari Id. Memiliki pengetahuan baik mengenai dunia dalam maupun realitas objektif.
Berkembang dari Ego untuk berperan sebagai tangan-tangan moral kepribadian.merupakan wujud internalisasi nilai-nilai orang tua. Dikelompokkan menjadi dua: conscience (yang bertugas menghukum perilaku salah) dan Ego ideal (yang bertugas menghadiahi perilaku benar). Seperti halnya Id, Superego tidak berhubungan dengan dunia luar, tidak memiliki pengetahuan mengenai realitas objektif.
Mengikuti prinsip kenikmatan (pleasure principle) dan bekerja dalam bentuk proses primer. Tujuannya tunggal, yakni mengenali kenikmatan dan rasa sakit sehingga dapat memperoleh kenikmatan dan menghindari rasa sakit tersebut.
Mengikuti prinsip realita (reality principle) dan bekerja dalam bentuk proses sekunder. Tujuannya untuk membedakan antara fantasi dengan realita sehingga dapat memuaskan kebutuhan organisme harus dapat menggabungkan (coordinate) kebutuhan Id, Superego dan dunia eksternal. Tujuan umumnya dalah mempertahankan hidup dan kehidupan jenisnya (reproduksi).
Mengikuti prinsip conscience dan Ego ideal. Tujuannya membedakan antara benar dan salah dan menuntut bahwa diri telah mematuhi ancaman moral, dan memuaskan kebutuhan kesempurnaan.
Mencari kepuasan insting segera.
Menunda kepuasan insting sampai kepuasan tersebut dapat dicapai tanpa mengalami konflik dengan Superego dan dunia eksternal.
Menghambat kepuasan insting.
Tidak rasional
Rasional
Tidak rasional
Beroperasi pada daerah unconscious
Beroperasi pada daerah conscious, preconcious dan unconscious
Beroperasi pada daerah conscious, preconcious dan unconscious

Apa yang diuraikan di atas hanya sekelumit dari pembahasan teori Psikoanalisis Sigmund Freud, yang sebenarnya jauh lebih kompleks dari sekadar yang diuraikan peneliti. Namun, untuk keperluan perkuliahan, Etika Profesi dan Ilmu perilaku, penjelasan di atas kiranya relatif cukup. Meski beberapa kalangan akademisi mengidentikkan antara Superego dengan hati nurani (al-qalb), namun sebagian besar ahli berpendapat bahwa Superego tidak bisa disamakan dengan hati nurani. Alasan untuk tidak menyamakan keduanya adalah karena keduanya digunakan dalam konteks yang berbeda. Secara implisit di atas bisa diperoleh bahwa Superego lebih digunakan dalam konteks psikoanalitis. Sedangkan hati nurani lebih digunakan dalam konteks etis. Kedua konteks tersebut memiliki frame of reference berbeda.
Selain faktor diatas, juga faktor yang tidak bisa mengidentikkan Superego dengan hati nurani wilayah dalam kesadaran tempat keduanya beraktivitas. Aktivitas Superego, menurut psikonalisis Freud untuk sebagian besar berada pada tataran tak disadari (unconscious). Hal dapat dirasakan ketika seseorang itu merasa bersalah atas perbuatan dirinya. Sumber perasaan bersalah maupun rasa bersalah itu sendiri bisa tetap tak disadari oleh dirinya. Sebaliknya, hati nurani hanya bisa berfungsi pada wilayah sadar. Peranan hati nurani dalam kehidupan etis dapat berfungsi hanya bila seseorang menyadari rasa bersalah dan tahu mengapa ia merasa bersalah. Taraf sadar merupakan keharusan supaya hati nurani bisa berfungsi dengan baik. Tanpa disadari, mustahil hati nurani bisa berperan sebagai penuntun di bidang moral.
Lantas, apakah tidak ada hubungan sama sekali antara Superego dengan hati nurani? Ternyata juga tidak begitu. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Dalam paham psikoanalisa, Superego diasumsikan sebagai dasar psikologis bagi “fenomena etis” yang disebut hati nurani. Hal ini karena Superego bersifat lebih luas daripada hati nurani. Atau lebih tepat dikatakan bahwa hati nurani merupakan salah satu unsur dalam Superego. Dalam buku terakhirnya, Introduce to Psychoanalisa, Freud mengatakan bahwa selain hati nurani Superego juga meliputi Self Observation dan Ego Ideal, gambaran yang dipakai seseorang untuk mengukur dirinya dan sebagai standar yang harus dikejar.
Seperti diuraikan di atas, Superego terbentuk dari proses internalisasi perintah-perintah atau larangan-larangan orang tua. Fungsi-fungsi psikis manusia pada permulaan hidupnya adalah sama dengan nol. Dari titik nol itu, selanjutnya mengalami suatu perkembangan yang kompleks hingga akhirnya mencapai taraf dewasa. Begitu pula dengan hati nurani. Dengan akal budinya, manusia mengembangkan hati nuraninya secara kompleks, hingga akhirnya menjadi sebuah sistem atau instansi yang menuntun dan membinanya dalam mencari kebenaran.
Dalam perjalanannya yang begitu panjang dan berliku-liku, hati nurani senantiasa diikat oleh kebenaran. Sekalipun Superego (sebagai dasar bagi hati nurani dalam konteks etis) belum terbentuk pada permulaan hidup seseorang, namun apa yang berlaku bagi hati nurani tetap mengikat kita. Bila dalam hati nurani seseorang terdapat nilai, misalnya “Saya tidak boleh menipu orang lain (meski orang tertentu sebenarnya mudah ditipu), nilai di dalam hati nurani tersebut akan mengikatnya untuk tidak melakukan penipuan, terlepas dari masalah bagaimana hati nurani sampai terbentuk.
Yang harus diperhatikan adalah seseorang harus mampu membedakan rasa bersalah yang patologis dan rasa berasalah yang bersifat etis sebagai fenomena dari hati nurani. Sigmund Freud punya jasa besar dalam memperlihatkan rasa bersalah yang seringkali bercampur dengan unsur-unsur patologis. Rasa bersalah demikian bisa sampai membuat orang tersiksa di luar batas. Salah satu pasien Freud mengalami rasa bersalah demikian. “Ia selalu bertanya pada dirinya sendiri, apakah bukan dia lah pembunuh yang sedang dicari polisi sehubungan dengan kasus pembunuhan yang telah ditemukan polisi pada hari itu. Padahal ia tahu pasti bahwa ia tidak melakukan kesalahan apa pun.“ Contoh ini bisa diperbanyak dengan contoh-contoh lain di mana dengan cara yang lebih halus rasa bersalah bercampur dengan kecemasan yang tidak sehat.
Tetapi dengan fakta tersebut bukan berarti kita bisa menggeneralisasikan bahwa setiap rasa bersalah selalu patologis. Psikoanalisa justru berupaya membantu kita untuk membedakan antara rasa bersalah yang kurang sehat dengan rasa bersalah yang otentik. Maksudnya, rasa bersalah yang terpancar dari kepribadian yang utuh. Bukan rasa bersalah sebagai kecemasan untuk kecenderungan-kecenderungan yang tak teratur. Rasa bersalah yang otentik adalah manifestasi dari rasa hormat kepada orang lain yang tidak boleh saya rugikan dengan perbuatan saya. Nilai-nilai dalam hati nurani harus menjadi semacam teknik untuk mewujudkan kebahagiaan dalm hubungan sosial antar sesamanya dan masyarakat.
Jadi jelas sekali bahwa antara Superego dan hati nurani tidak identik, meski yang satu menjadi bagian dari yang lain. Superego bisa berperan dalam konteks sadar maupun tidak. Sedang hati nurani bermanifestasi dalam wilayah kesadaran saja. Dengan demikian keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Superego dipergunakan dalam bidang psikologi klinis, adapun hati nurani dipergunakan untuk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar